Suksesi dan Klimaks
Ekosistem
tidak diam dan statis., melainkan selalu berubah (dinamis). Ekosistem tumbuh
dari komunitas yang sederhana menuju ke komunitas yang kompleks. Selama
pertumbuhan itu terjadi pergantian jenis-jenis organisme yang dominan atau
menguasai. Pergantian dominansi itu dikenal sebagai suksesi. Suksesi terus berlangsung hingga tercapai suatu klimaks atau bioma. Suatu klimaks adalah kondisi kondisi yang seimbang, tidak
terjadi pergantian dominasi lagi.
Sebagai
contoh, sawah yang dibiarkan akan ditumbuhi rumput. Jika dibiarkan terus,
beberapa tahun kemudian akan ditimbuhi semak belukar. Jika terus dibiarkan,
misalnya hingga 75-150 tahun, mungkin akan menjadi hutan yang lebat.
Suksesi
ekologi akan terus berlangsung hingga mencapai suatu keadaan seimbang yang disebut
dengan istilah komunitas klimaks
(atau disebut klimaks saja). Jika terjadi klimaks, suksesi ekologi terhenti.
Ini bukan berarti proses ppemanfaatan energi juga berhenti. Proses pemanfaatan
energi terus berlanjut. Hanya saja, terjadi keseimbangan antara energi yang
disimpan dan energi yang digunakan oleh berbagai komponen penyusun ekosistem
itu. Ini dikenal sebagai keseimbangan ekosistem. Jadi, dalam klimaks terjadi keseimbangan
ekosistem (keseimbangan lingkungan).
Klimaks
dan keseimbangan ekosistem tidak diam atau statis, melainkan berproses atau
dinamis. Jika hutan klimaks mendapat gangguan, misalnya satu pohon tumbang
karena penyakit, maka dengan cepat akan diganti dengan pohon baru yang tumbuh
menggantikan pohon yang tumbang. Ekosistem dikatakan memiliki daya pulih
kembali yang dikenal sebagai daya
lenting lingkungan. Kerusakan yang melebihi batas kepentingan, misalnya
akibat penebangan hutan yang dilakukan terus-menerus, mengakibatkan ekosistem
tersebut sulit untuk kembali ke kondisi semula dalam waktu yang singkat.
Dikatakan bahwa keseimbangan ekosistem terganggu dan daya lenting ekosistem
juga terganggu.
Ditinjau
dari asal terjadinya, suksesi dibedakan menjadi suksesi primer dan suksesi
sekunder.
1.
Suksesi Primer
Suksesi primer
berlangsung pada permukaan terbuka yang kosong sehingga muncul ekosistem baru.
Misalnya, letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 menyebabkan permukaan Pulau
Krakatau ditutupi batu-batu gunung. Sampai dua bulan berikutnya, keadaan
batu-batuan di sana masih panas. Tidak ada makhluk hidup yang dijumpai di
atasnya. Sembilan bulan kemudian, muncul alga biru yang hidup menempel pada
batu yang lembap. Alga biru yang hidup pertama kali itu dikenal sebagai organisme perintis (pionir). Tahun
berikutnya, muncul
lumut
kerak. Hasil pelapukan oleh alga biru dan lumut kerak membentuk tanah, yang
memungkinkan tumbuhan lain hidup di atasnya. Tiga tahun kemudian, muncul
tumbuhan pantai yang tumbuh dari biji-bijian yang terbawa air laut dari Pulau
Jawa dan Sumatera. Biji-biji yang terbawa burung atau kelelawar yang berjatuhan
di sana juga akan tumbuh. Tujuh tahun setelah itu, dijumpai bermacam-macam
serangga, biawak, ular, dan laba-laba. Seratus tahun kemudian, telah terdapat
hutan di lereng-lereng Gunung Krakatau. Di negara kita, proses dari batuan
hingga menjadi hutan belantara memerlukan waktu 100-150 tahun . Di negara
beriklim sedang, waktunya mencapai 500 tahun atau lebih.
Suksesi
primer
2.
Suksesi Sekunder
Suksesi Sekunder
Suksesi
sekunder berlangsung di bekas ekosistem yang tidak mengalami kerusakan total.
Suksesi sekunder tidak dimulai dari kondisi ekosistem yang kosong. Contohnya,
suksesi yang terjadi di bekas sawah, tanah rawa yang dikeringkan, dan padang
alang-alang. Didalam suksesi sekunder tidak dijumpai organisme perintis. Jenis
organisme yang mendominasi tergantung pada lingkungannya.
Suksesi
sekunder
Tidak ada komentar:
Posting Komentar